TINTAJABAR.ID, BANDUNG - Ida Jaenah (49), warga Gang Kurnia 1 RT 10/03, Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, menjalani kehidupan penuh perjuangan demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Sejak suaminya meninggal dunia hampir dua tahun lalu, Ida harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai empat orang anaknya.
Ida telah bekerja sebagai penjahit dan pengobras pakaian rajutan selama kurang lebih 15 tahun. Awalnya ia bekerja di tempat Saiman, lalu terakhir bekerja di Gang Kurnia 2 pada usaha milik Bos Yadi. Hingga kini, Ida masih mengandalkan pekerjaan menjahit dan mengobras baju rajutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam kesehariannya, Ida tinggal di rumah milik orang tuanya. Dari hasil kerjanya, ia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp200 ribu per minggu. Jumlah tersebut jauh dari cukup, sementara biaya hidup sehari-hari bisa mencapai sekitar Rp100 ribu per hari.
“Penghasilan segitu jelas tidak cukup, tapi saya tetap bertahan demi anak-anak,” ujar Ida saat ditemui awak media di tempat kerjanya, Rabu (22/1/2025).
Dari empat anak yang ia tanggung, satu anak masih bersekolah di SMK kelas dua, satu anak di SD kelas tiga, sementara dua anak lainnya masih membutuhkan biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari.
Ida juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) saat suaminya masih hidup. Namun sejak suaminya meninggal dunia, bantuan tersebut tidak lagi diterimanya. Selain itu, ia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan sembako, BLT, maupun bantuan kesejahteraan sosial lainnya.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Kalau bisa dibantu mesin obras supaya saya bisa usaha di rumah dan penghasilannya lebih baik untuk membiayai keluarga,” harapnya.
Kisah Ida Jaenah mencerminkan kondisi nyata masyarakat kecil yang masih berjuang di tengah keterbatasan. Ia berharap uluran tangan pemerintah maupun pihak terkait agar dapat terus bertahan dan memberikan masa depan yang lebih layak bagi anak-anaknya.
(Agss)


Posting Komentar