Kegiatan yang mendapat dukungan dari brand outdoor EIGER Adventure ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum strategis untuk memperkuat koordinasi dan merumuskan langkah penanggulangan bencana di Jawa Barat. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat cuaca ekstrem yang belakangan melanda Kota Bandung dan sekitarnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kehadiran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung yang baru dibentuk sebagai garda terdepan dalam manajemen kebencanaan di tingkat kota. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ancaman bencana di Bandung tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga oleh perubahan tata ruang yang kurang terkendali.
Dalam dua hari terakhir, misalnya, tercatat 23 pohon tumbang akibat cuaca ekstrem. Farhan menilai kondisi tersebut juga dipengaruhi faktor non-alamiah, seperti perubahan fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman tanpa penyesuaian sistem drainase. Akibatnya, sejumlah wilayah seperti Cisaranten Kulon kerap mengalami luapan air saat hujan turun.
Selain banjir, risiko longsor juga menjadi perhatian di beberapa kawasan padat penduduk, termasuk di sekitar Jalan Cihampelas dan wilayah Cisarua. Pembangunan di lereng dengan kemiringan tinggi serta alih fungsi lahan di kawasan hulu dinilai berpotensi meningkatkan kerawanan bencana bagi masyarakat.
Hal serupa disampaikan Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana. Ia menjelaskan bahwa misi kemanusiaan dalam operasi pencarian dan pertolongan bertumpu pada tiga pilar utama, yakni empati sebagai penggerak awal, dukungan holistik yang mencakup bantuan fisik dan psikologis bagi korban, serta energi sosial berupa solidaritas masyarakat yang memperkuat ketahanan saat krisis.
Sementara itu, praktisi manajemen kebencanaan Bayu Tresna menilai kolaborasi penanggulangan bencana saat ini telah memasuki era ekosistem terbuka (open ecosystem). Dalam menghadapi tantangan hidrometeorologi yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, sistem penanganan bencana harus bersifat adaptif dan terintegrasi.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial berupa budaya gotong royong yang kuat. Namun, upaya tersebut perlu didukung sistem manajemen risiko yang terkoordinasi dengan baik antara BPBD, Basarnas, dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan juga menegaskan pentingnya peran media dalam menyebarkan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat luas. Forum tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya pembangunan kota, kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan.
(Friz)




Posting Komentar